Jumat, 27 Juli 2012

Asal Usul Bunga Sepatu


Asal Usul Bunga Sepatu



Dahulu kala, di kerajaan kahyangan, ada tujuh orang puteri. Nama-nama mereka diambil dari nama bunga. Mawar, Dahlia, Cempaka, Tanjung, Kenanga, Cendana dan si bungsu Melati. Putri-putri itu semua cantik jelita. Tapi yang paling cantik dan berani adalah si bungsu, Melati. Ia suka berpetualang ke Rimba Hijau, sebuah hutan yang sering dilewati manusia. Padahal ayahnya telah berulangkali memperingatkan, ”Melati anakku, aku tahu kau suka sekali pergi ke Rimba Hijau. Tapi di sana berbahaya, nak. Banyak manusia berkeliaran.” Tapi Melati selalu mengatakan, ”Tapi ayah, manusia-manusia itu tak pernah melihatku. Aku kan pandai bersembunyi di antara semak dan pepohonan. Ayah tenang saja ya.” Mendengar hal tersebut sang Ayah pun kembali melarangnya, ”Jangan, Melati...jangan pergi sendiri ke Rimba Hijau.” Melati menjawab dengan terpaksa, ”Hhhh....baiklah Ayah...”, namun dalam hati ia berkata, ” tapi berarti jika aku pergi bersama-sama, tidak apa-apa kan?”
Melati tidak nakal, ia hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Jadi, nasihat ayahnya pun tidak dipatuhinya. Melati malah mengajak semua kakaknya untuk pergi ke Rimba Hijau!
”Melati, aku takut...” ujar Mawar kakaknya, ”Iya aku juga takut. Bagaimana jika kita terlihat manusia?” ujar Dahlia yang mulai ikut khawatir. Namun Melati berhasil meyakinkan kakak – kakaknya bahwa semuanya akan baik – baik saja, ”Tidak apa-apa, kakak-kakakku...tenang saja...kita aman di sini. Yuk kita main-main di air terjun!”
Maka bermainlah para putri kahyangan itu di air terjun. Saking asyiknya bermain, mereka tidak melihat bahwa ada seorang manusia yang memperhatikan dari kejauhan. Manusia itu adalah seorang putra raja yang tersesat di hutan. Ia terkejut melihat 7 putri cantik di hutan rimba. ”Hah? Apakah mataku salah? Aku melihat 6 orang, bukan, 7 orang gadis rupawan di sekitar air terjun. Siapakah mereka? Oh, cantiknya. Ah lebih baik kudekati perlahan.” pangeran berkata dalam hati.
Akhirnya sang pangeran pun menghampiri gadis – gadis itu, ”Para putri yang cantik jelita, aku adalah Pangeran negri seberang. Siapakah kalian, dan mengapa kalian ada di sini?” Para putri yang sedang asyik bermain terkejut dengan kehadiran sang pangeran. Mereka langsung lari berhamburan ke segala arah. Melihat semua putri – putri tersebut kabur berlarian, sang pangeran pun berteriak, ”Jangan takut! Jangan pergi! Aku hanya ingin berteman. Hey tunggu! Jangan pergii!!”
Pangeran itu berusaha mengejar para putri, tapi mereka terlalu cepat. Dengan panik para putri bersiap-siap untuk terbang kembali ke khayangan. Kecuali Melati yang terseok-seok keluar dari kolam air terjun, ”Aduh, tunggu aku kak, kainku, sepatuku, aduh tunggu..”
Oh, karena Melati tadi sedang berenang, ia tak mendengar kedatangan si pangeran. Jadi ia pun terlambat menyadari bahaya! Sang pangeran akhirnya berusaha untuk menghampiri Melati, ”Ah, masih ada satu putri yang tertinggal. Mungkin aku bisa berkenalan dengannya, aku ingin tahu dari mana mereka berasal. Putri!”
Oh untunglah Melati berhasil terbang meninggalkan si Pangeran sebelum pangeran sempat menangkapnya. Tapi, karena terburu-buru, ketika ia terbang, sepatunya terlepas! ” Aduuuh sepatuku, ah tapi yang penting aku selamat. Ternyata ayah benar, hutan ini berbahaya. Seharusnya aku menurut pada ayah...huhuhu..maafkan aku ayaah...maafkan aku kakak-kakak...huhuhu” Melati terbang sambil menangis terisak – isak.
”Ah, sayang sekali aku tak berhasil menangkap bidadari terakhir itu....tapi tak apalah, paling tidak aku berhasil menangkap sepatunya yang lepas tadi...wah, sepatu ini indah sekali... seperti disulam dengan benang emas..lembuut sekali.” Sang pangeran berkata.
Saking indah dan lembutnya, sepatu itu tergelincir dari genggaman sang pangeran dan jatuh di atas rerumputan. Tiba-tiba saja, sepatu itu berubah menjadi sekuntum bunga yang indaaaah sekali. Nah, bunga indah itulah yang kemudian dinamakan bunga sepatu karena konon berasal dari sepatu Melati si putri khayangan.

[Dongeng ini disadur dari majalah Bobo persembahan FeMale Radio]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar